(Dinukil dari Kitab Baghowi dan Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1)
Di kalangan Bani Israil hiduplah seorang kaya raya. Dia mempunyai
saudara sepupu yang fakir. Tidak ada ahli waris selain dirinya. Ketika
orang kaya tersebut tidak lekas mati, maka saudara sepupu ini
membunuhnya agar dia dapat mewarisi hartanya. Lalu dia membawa mayat
saudaranya ke desa lain lalu melemparkan di pelataran desa. Kemudian dia
berlagak hendak menuntut balas. Dia bersama orang-orang mendatangi Nabi
Musa ‘alaihissalam lalu mereka memohon kepada Nabi Musa ‘alaihissalam
agar berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya diberi keterangan
mengenai pembunuh orang tersebut.
Kemudian Nabi Musa
‘alaihissalam memerintahkan mereka agar menyembelih sapi dengan berkata
kepada mereka: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi
betina.”
Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” (QS. Al-Baqarah: 67).
Maksudnya, apakah engkau mengejek kami, padahal kami bertanya kepadamu
mengenai orang yang terbunuh, dan engkau justru memerintahkan kami agar
menyembelih sapi.
Lantas Nabi Musa ‘alaihissalam menjawab: “Aku
berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.”
(QS. Al-Baqarah: 67)
Maksudnya, termasuk orang-orang yang mengejek kaum mukmin.
Ketika orang-orang mengetahui bahwa menyembelih sapi merupakan rencana
dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mereka menanyakan ciri-ciri sapi
tersebut kepada Nabi Musa ‘alaihissalam.
Ternyata di balik hal
tersebut ada hikmah besar, yaitu bahwa di kalangan Bani Israil terdapat
orang shalih. Dia mempunyai anak laki-laki yang masih kecil dan dia
mempunyai anak sapi betina. Dia membawa anak sapi tersebut ke dalam
hutan dan berkata, “Ya Allah! Saya menitipkan anak sapi ini kepada-Mu
untuk anakku kelak jika dia dewasa.”
Selanjutnya orang shalih ini
meninggal dunia, sehingga anak sapi ini masih di hutan sampai
bertahun-tahun. Anak sapi itu berlari setiap kali dilihat oleh orang.
Ketika anak orang shalih tadi telah dewasa, dia menjadi anak yang
berbakti kepada kedua orang tuanya. Dia membagi malamnya menjadi tiga
bagian. Dia melaksanakan shalat dalam sepertiga malam, tidur dalam
sepertiga malam, dan duduk di samping ibunya dalam sepertiga malam. Di
pagi hari dia mencari kayu bakar yang ditaruh di punggungnya, lalu
datang ke pasar untuk menjual kayunya sesuai kehendak Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Kemudian dia menyedekahkan sepertiganya, memakan sepertiganya,
dan memberikan kepada sang ibu sepertiganya.
Pada suatu hari sang
ibu berkata kepadanya, “Sesungguhnya ayahmu telah mewariskan anak sapi
betina untukmu yang dia titipkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di
hutan ini, maka berangkatlah! Berdoalah kepada Rabb Nabi Ibrahim
‘alaihissalam, Nabi Ismail ‘alaihissalam, dan Nabi Ishaq ‘alaihissalam
agar mengembalikan anak sapi tersebut kepadamu. Ciri-cirinya, jika
engkau melihatnya, kamu membayangkan seakan-akan sinar matahari memancar
dari kulitnya. Dia diberi nama ‘Al-Mudzahhabah’ karena keindahan dan
kejernihannya.”
Kemudian anak tersebut memasuki hutan, lalu dia
melihat anak sapi sedang merumput, lantas dia memanggilnya dengan
mengatakan, “Saya bermaksud kepadamu dengan menyebut nama Rabb Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Ismail ‘alaihissalam, dan Nabi Ishaq
‘alaihissalam.” Kontan sapi itu menengok ke arahnya dan berjalan
mendekatinya sehingga sapi tersebut berdiri di hadapannya. Dia lalu
memegang lehernya dan menuntunnya.
Dengan izin Allah Subhanahu wa
Ta’ala, tiba-tiba sapi tersebut bicara, “Wahai anak yang berbakti
kepada kedua orang tua! Tunggangilah aku, karena hal itu lebih
meringankanmu.’
Anak tersebut berkata, “Sesungguhnya ibuku tidak
memerintahkanku melakukan hal itu. Akan tetapi, beliau berkata
‘peganglah lehernya.”
Sapi itu berkata, “Demi Rabb Bani Israil,
jika engkau menunggangiku, niscaya kamu tidak dapat menguasaiku untuk
selamanya. Ayo berangkat! Sungguh, jika engkau memerintahkan gunung
melepaskan diri dari pangkalnya dan berjalan bersamamu, niscaya ia
melakukannya lantaran baktimu kepada ibumu.”
Lantas pemuda
tersebut berjalan bersama sapi menemui ibunya. Sang ibu berkata
kepadanya, “Sesungguhnya engkau orang fakir. Engkau tidak memiliki
harta. Engkau kerepotan mencari kayu bakar di siang hari dan melakukan
qiyamul lail di malam hari. Oleh karena itu, pergilah. Jual sapi ini!”
Si anak bertanya , “Saya jual dengan harga berapa?”
Ibunya menjawab, “Tiga dinar. Engkau jangan menjual tanpa
pertimbanganku.” Harga sapi telah dipatok tiga dinar. Sang anak pun
berangkat ke pasar.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus
malaikat agar dia melihat makhluk-Nya dan kekuasaan-Nya sekaligus untuk
menguji pemuda tersebut bagaimana baktinya kepada ibunya. Sungguh, Allah
Subhanahu wa Ta’ala mengetahui hal tersebut.
Sang malaikat bertanya, “Kamu jual sapi ini dengan harga berapa?”
Dia menjawab, “Tiga dinar. Dengan catatan ibuku meridhainya.”
Lantas malaikat berkata, “Saya beli enam dinar. Tetapi engkau tidak perlu meminta persetujuan ibumu.”
Pemuda itu berkata, “Seandainya engkau memberiku emas seberat sapi ini
pun, saya tidak akan mengambilnya melainkan dengan ridha ibuku.”
Kemudian dia membawa pulang sapi kepada ibunya dan dia menceritakan tentang harganya.
Lalu sang ibu berkata, “Kembali lagi! Juallah dengan harga enam dinar berdasarkan ridha dariku.’
Dia pun berangkat ke pasar dan menemui malaikat. Sang malaikat bertanya, “Apakah engkau telah meminta persetujuan ibumu?”
Pemuda itu menjawab, “Beliau menyuruhku agar tidak mengurangi harganya
dari enam dinar dengan catatan saya meminta persetujuan ibu.”
Sang malaikat berkata, “Saya akan memberimu dua belas dinar.”
Pemuda itupun menolak, lalu kembali kepada ibunya dan menceritakan hal tersebut kepadanya.
Ibunya berkata, “Sungguh, orang yang mendatangimu adalah malaikat dalam
bentuk manusia untuk mengujimu. Jika dia mendatangimu lagi, katakan
padanya, ‘Apakah engkau memerintahkan kami untuk menjual sapi ini
ataukah tidak?”
Pemuda itu pun melakukan hal tersebut, lalu
malaikat berkata, “Kembalilah kepada ibumu. Dan tolong sampaikan
padanya, ‘Biarkanlah sapi ini. Sungguh Nabi Musa bin Imran ‘alaihissalam
akan membelinya dari kalian untuk mengungkap korban pembunuhan
seseorang di kalangan kaum Bani Israil. Janganlah engkau menjualnya
kecuali dengan kepingan dinar yang memenuhi kulitnya. Oleh karena itu,
tahan dulu sapi ini.’”
Allah Subhanahu wa Ta’ala memang
menakdirkan orang-orang Bani Israil yang menyembelih sapi itu. Mereka
terus-menerus menanyakan ciri-ciri sapi tersebut dan ternyata ciri-ciri
yang diberikan sesuai dengan ciri-ciri sapi pemuda shalih tersebut. Hal
ini merupakan imbalan bagi pemuda tersebut atas baktinya kepada sang ibu
sebagai anugerah dan kasih sayang.
Akhirnya mereka pun membeli
sapi tersebut dengan emas sepenuh kulit sapi. Lantas mereka menyembelih
sapi tersebut kemudian memukulkan bagian dari sapi kepada korban
pembunuhan sebagaimana perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selanjutnya
orang yang terbunuh bangkit; hidup lagi dengan izin Allah, sedang urat
lehernya masih mengalirkan darah. Lalu dia berkata, “Yang membunuh saya
adalah fulan.” Kemudian dia jatuh dan mati di tempatnya. Maka, si
pembunuh terhalang mendapat warisan.
Semoga bermanfaat Allaahumma aamiin...
Wallaahu a'lam bish shawab wassalamu'alaikum wa rahmatullaahi ta'ala wa barakatuh.
"Sesungguhnya Allah SWT dan para malaikatNya bersholawat untuk Nabi Muhammad Saw. Wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah kamu atas Nabi dan ucapkanlah salam dengan penghormatan kepadanya" [QS. Al Ahzab : 56]
Senin, 19 Oktober 2015
TAUBATNYA MALIK BIN DINAR ROHIMAHULLAH
(Dinukil dari Misanul I’tidal, III/426)
Kehidupanku dimulai dengan kesia-siaan, mabuk-mabukan, maksiat, berbuat
zhalim kepada manusia, memakan hak manusia, memakan riba, dan memukuli
manusia. Kulakukan segala kezhaliman, tidak ada satu maksiat melainkan
aku telah melakukannya. Sungguh sangat jahat hingga manusia tidak
menghargaiku karena kebejatanku.
Pada suatu hari, aku merindukan
pernikahan dan memiliki anak. Maka kemudian aku menikah dan dikaruniai
seorang puteri yang kuberi nama Fathimah. Aku sangat mencintainya.
Setiap kali dia bertambah besar, bertambah pula keimanan di dalam hatiku
dan semakin sedikit maksiat di dalam hatiku. Pernah suatu ketika
Fathimah melihatku memegang segelas khamr, maka diapun mendekat kepadaku
dan menyingkirkan gelas tersebut hingga tumpah mengenai bajuku. Saat
itu umurnya belum genap dua tahun. Seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta’ala
-lah yang membuatnya melakukan hal tersebut.
Setiap kali dia
bertambah besar, semakin bertambah pula keimanan di dalam hatiku. Setiap
kali aku mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala selangkah,
maka setiap kali itu pula aku menjauhi maksiat sedikit demi sedikit.
Hingga usia Fathimah genap tiga tahun, saat itulah Fathimah meninggal.
Maka akupun berubah menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya. Aku
belum memiliki sikap sabar yang ada pada diri seorang mukmin yang dapat
menguatkanku di atas cobaan musibah. Kembalilah aku menjadi lebih buruk
dari sebelumnya. Setanpun mempermainkanku, hingga datang suatu hari,
setan berkata kepadaku: “Sungguh hari ini engkau akan mabuk-mabukan
dengan mabuk yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Maka aku
bertekad untuk mabuk dan meminum khamr sepanjang malam. Aku minum, minum
dan minum. Maka aku lihat diriku telah terlempar di alam mimpi.
Di alam mimpi tersebut aku melihat hari kiamat. Matahari telah gelap,
lautan telah berubah menjadi api, dan bumipun telah bergoncang. Manusia
berkumpul pada hari kiamat. Manusia dalam keadaan berkelompok-kelompok.
Sementara aku berada di antara manusia, mendengar seorang penyeru
memanggil: Fulan ibn Fulan, kemari! Mari menghadap al-Jabbar. Aku
melihat si Fulan tersebut berubah wajahnya menjadi sangat hitam karena
sangat ketakutan. Sampai aku mendengar seorang penyeru menyeru namaku:
“Mari menghadap al-Jabbar!”
Kemudian hilanglah seluruh manusia
dari sekitarku seakan-akan tidak ada seorangpun di padang Mahsyar.
Kemudian aku melihat seekor ulat besar yang ganas lagi kuat merayap
mengejar kearahku dengan membuka mulutnya. Akupun lari karena sangat
ketakutan. Lalu aku mendapati seorang laki-laki tua yang lemah. Akupun
berkata: “Hai, selamatkanlah aku dari ular ini!” Dia menjawab: “Wahai
anakku aku lemah, aku tak mampu, akan tetapi larilah kearah ini
mudah-mudahan engkau selamat!”
Akupun berlari kearah yang
ditunjukkannya, sementara ular tersebut berada di belakangku. Tiba-tiba
aku mendapati api ada dihadapanku. Akupun berkata: “Apakah aku melarikan
diri dari seekor ular untuk menjatuhkan diri ke dalam api?” Akupun
kembali berlari dengan cepat sementara ular tersebut semakin dekat. Aku
kembali kepada lelaki tua yang lemah tersebut dan berkata: “Demi Allah,
wajib atasmu menolong dan menyelamatkanku.” Maka dia menangis karena iba
dengan keadaanku seraya berkata: “Aku lemah sebagaimana engkau lihat,
aku tidak mampu melakukan sesuatupun, akan tetapi larilah kearah gunung
tersebut mudah-mudahan engkau selamat!”
Akupun berlari menuju
gunung tersebut sementara ular akan mematukku. Kemudian aku melihat di
atas gunung tersebut terdapat anak-anak kecil, dan aku mendengar semua
anak tersebut berteriak: “Wahai Fathimah tolonglah ayahmu, tolonglah
ayahmu!”
Selanjutnya aku mengetahui bahwa dia adalah putriku.
Akupun berbahagia bahwa aku mempunyai seorang putri yang meninggal pada
usia tiga tahun yang akan menyelamatkanku dari situasi tersebut. Maka
diapun memegangku dengan tangan kanannya, dan mengusir ular dengan
tangan kirinya sementara aku seperti mayit karena sangat ketakutan. Lalu
dia duduk di pangkuanku sebagaimana dulu di dunia.
Dia berkata
kepadaku: “Wahai ayah, “belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang
beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (Qs. Al-Hadid:16)
Maka kukatakan: “Wahai putriku, beritahukanlah kepadaku tentang ular itu.”
Dia berkata: “Itu adalah amal keburukanmu, engkau telah membesarkan dan
menumbuhkannya hingga hampir memakanmu. Tidakkah engkau tahu wahai
ayah, bahwa amal-amal di dunia akan dirupakan menjadi sesosok bentuk
pada hari kiamat? Dan lelaki yang lemah tersebut adalah amal shalihmu,
engkau telah melemahkannya hingga dia menangis karena kondisimu dan
tidak mampu melakukan sesuatu untuk membantu kondisimu. Seandainya saja
engkau tidak melahirkanku, dan seandainya saja tidak mati saat masih
kecil, tidak akan ada yang bisa memberikan manfaat kepadamu.”
Dia
Rohimahullah berkata: Akupun terbangun dari tidurku dan berteriak:
“Wahai Rabbku, sudah saatnya wahai Rabbku, ya, “Belumkah datang waktunya
bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat
Allah.” Lantas aku mandi dan keluar untuk shalat subuh dan ingin segera
bertaubat dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dia Rohimahullah berkata: Akupun masuk ke dalam masjid dan ternyata imampun membaca ayat yang
sama: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk
tunduk hati mereka mengingat Allah.” (Qs. Al-Hadid: 16)
…..
Itulah kisah taubatnya Malik bin Dinar Rohimahullah yang beliau
kemudian menjadi salah seorang imam generasi tabi’in, dan termasuk ulama
Basrah. Dia dikenal selalu menangis sepanjang malam dan berkata: “Ya
Ilahi, hanya Engkaulah satu-satunya Dzat Yang Mengetahui penghuni sorga
dan penghuni neraka, maka yang manakah aku di antara keduanya? Ya Allah,
jadikanlah aku termasuk penghuni sorga dan jangan jadikan aku termasuk
penghuni neraka.”
Malik bin Dinar Rohimahullah bertaubat dan dia
dikenal pada setiap harinya selalu berdiri di pintu masjid berseru:
“Wahai para hamba yang bermaksiat, kembalilah kepada Penolong-mu! Wahai
orang-orang yang lalai, kembalilah kepada Penolong-mu! Wahai orang yang
melarikan diri (dari ketaatan), kembalilah kepada Penolong-mu!
Penolong-mu senantiasa menyeru memanggilmu di malam dan siang hari. Dia
berfirman kepadamu: “Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada-Ku satu
jengkal, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu hasta. Jika
dia mendekatkan dirinya kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekatkan
diri-Ku kepadanya satu depa. Siapa yang mendatangi-Ku dengan berjalan,
Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil.”
Aku memohon kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan rizki taubat kepada kita.
Tidak ada sesembahan yang hak selain Engkau, Maha Suci Engkau,
sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.
Malik bin
Dinar Rohimahullah wafat pada tahun 130 H. Semoga Allah Subhanahu wa
Ta’ala merahmatinya dengan rahmat-Nya yang luas.
Sumber: Qiblati edisi 06 tahun II – Maret 2007 M /Shafar 1428 H
Semoga bermanfaat Allaahumma aamiin...
Wallaahu a'lam bish shawab wassalamu'alaikum wa rahmatullaahi ta'ala wa barakatuh.
Wallaahu a'lam bish shawab wassalamu'alaikum wa rahmatullaahi ta'ala wa barakatuh.
Sabtu, 17 Oktober 2015
POHON DAN BUAHNYA
(Oleh Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen diterjemahkan oleh Dimas Tandayu dan Herry Mardian)
SEORANG MURID bertanya pada Bawa Muhaiyaddeen, “Bisakah Guru
menjelaskan kondisi spiritualku, di mana aku sedang berada saat ini?”
Sang Guru menjawab, “Sebuah benih haruslah ditanam di saat yang tepat.
Ketika ia mulai tumbuh, akarnya menyelusup jauh ke dalam tanah, memeluk
dari semua penjuru. Segera benihnya tumbuh menjadi sebuah pohon. Seiring
perjalanan waktu, pohonnya akan semakin membesar, lalu berbunga dan
berbuah. Tatkala berbuah, buahnya tampak tidak lagi memiliki ikatan
dengan tanah. Walaupun pohonnya terikat ke tanah, namun buahnya justru
terhubung kepada manusia dan seluruh makhluk hidup.
Anakku, hidupmu pun demikian. Walaupun kau telah tumbuh begitu tinggi, sama seperti pohon: keterikatan akalmu, pemikiranmu, dan hasratmu masih pada bumi dan keduniaan. Seperti itulah kondisimu saat ini.
Tapi anakku, kau memiliki sebuah penghubung dalam qalb-mu, di dalam hatimu, yang berfikir tentang Tuhan dan mencari-Nya. Akan aku jelaskan cara mengembangkan hubungan tersebut. Ikutilah arahan ini baik-baik.
Sebanyak apa pun keterikatanmu pada dunia, jika kau ingin menemukan Tuhan, jika kau ingin menapaki jalan menuju-Nya; engkau, doa-doamu dan ibadahmu harus seperti pohon. Walaupun sebuah pohon terikat ke tanah, ia memberikan buahnya untuk semua mahluk. Walaupun kau terikat pada dunia seperti pohon, niatmu harus seperti niat sebuah pohon terhadap buahnya: doa-doamu, pengabdianmu, ibadah-ibadahmu, keunggulan-keunggulanmu maupun semua yang kau lakukan harus terhubung dengan Tuhan, dan kau harus melakukan pekerjaanmu dengan diniatkan untuk kemaslahatan semua makhluk, bukan untuk dirimu sendiri. Maka setelah itu, barulah kau akan berjalan dengan baik ketika menapaki jalan menuju-Nya.”
Semoga bermanfaat Allaahumma aamiin...
Wallaahu a'lam bish shawab wassalamu'alaikum wa rahmatulaahi ta'ala wa barakatuh.
Anakku, hidupmu pun demikian. Walaupun kau telah tumbuh begitu tinggi, sama seperti pohon: keterikatan akalmu, pemikiranmu, dan hasratmu masih pada bumi dan keduniaan. Seperti itulah kondisimu saat ini.
Tapi anakku, kau memiliki sebuah penghubung dalam qalb-mu, di dalam hatimu, yang berfikir tentang Tuhan dan mencari-Nya. Akan aku jelaskan cara mengembangkan hubungan tersebut. Ikutilah arahan ini baik-baik.
Sebanyak apa pun keterikatanmu pada dunia, jika kau ingin menemukan Tuhan, jika kau ingin menapaki jalan menuju-Nya; engkau, doa-doamu dan ibadahmu harus seperti pohon. Walaupun sebuah pohon terikat ke tanah, ia memberikan buahnya untuk semua mahluk. Walaupun kau terikat pada dunia seperti pohon, niatmu harus seperti niat sebuah pohon terhadap buahnya: doa-doamu, pengabdianmu, ibadah-ibadahmu, keunggulan-keunggulanmu maupun semua yang kau lakukan harus terhubung dengan Tuhan, dan kau harus melakukan pekerjaanmu dengan diniatkan untuk kemaslahatan semua makhluk, bukan untuk dirimu sendiri. Maka setelah itu, barulah kau akan berjalan dengan baik ketika menapaki jalan menuju-Nya.”
Semoga bermanfaat Allaahumma aamiin...
Wallaahu a'lam bish shawab wassalamu'alaikum wa rahmatulaahi ta'ala wa barakatuh.
MUSYAWARAH BURUNG
(Karya Fariduddin Attar)
Masing-masing dari mereka masih berfikir dan terdiam. Lalu kembali ada yang berteriak, “Lalu apa yang harus kita lakukan?”
Dikisahkan, segala
burung di dunia, yang dikenal atau tidak dikenal, datang berkumpul.
Mereka sama-sama memiliki satu pertanyaan, siapakah raja mereka? Di
antara mereka ada yang berkata, “Rasanya tak mungkin negeri dunia ini
tidak memiliki raja. Maka rasanya mustahil bila kerajaan burung-burung
tanpa penguasa! Jadi, kita semua memiliki Raja, ya, Raja.”
Semua burung tertegun, seperti ada keraguan yang mengawang-awang.
“Keadaan semacam ini tak bisa dibiarkan terus menerus. Hidup kita ini
akan percuma bila sepanjang hayat kita, kita tidak pernah mengetahui,
dan mengenal siapa Raja kita sesungguhnya.”
Masing-masing dari mereka masih berfikir dan terdiam. Lalu kembali ada yang berteriak, “Lalu apa yang harus kita lakukan?”
“Tentu saja kita harus berusaha bersama-sama mencari seorang raja untuk
kita semua; karena tidak ada negeri yang memiliki tatanan yang baik,
tanpa seorang raja.· Mereka pun mulai berkumpul dan bersidang untuk
memecahkan persoalan. Burung Hudhud dengan semangat dan penuh rasa
percaya diri, tampil ke depan dan menempatkan diri di tengah majelis
burung-burung itu. Di dadanya tampak perhiasan yang melambangkan bahwa
dia telah memiliki pancaran ruhaniah yang tinggi. Dan jambul di
kepalanya tegak berdiri mahkota yang melambangkan keagungan dan
kebenaran, dan dia juga memiliki pengetahuan luas tentang baik dan
buruk.
Burung-burung sekalian, kata Hudhud, kita mempunyai raja
sejati, ia tinggal jauh di balik gunung-gunung Qaf. Ribuan daratan dan
lautan terbentang sepanjang perjalanan menuju tempatnya. Namanya
Simurgh. Aku kenal raja itu dengan baik, tapi aku tak bisa terbang
sendiri menemuinya. Bebaskan dirimu dari rasa malu, sombong, dan ingkar.
Dia pasti akan melimpahkan cahaya bagi mereka yang sanggup melepaskan
belenggu diri. Mereka yang demikian akan bebas dari baik dan buruk,
karena berada di jalan kekasih-Nya. Sesungguhnya Dia dekat dengan kita,
tapi kita jauh dari-Nya.
Dikisahkan, pada suatu malam sang
Maharaja Simurgh terbang di kegelapan malam. Tiba-tiba jatuhlah sehelai
bulunya yang membuat geger seluruh penduduk bumi. Begitu mempesonanya
bulu Simurg hingga membuat tercengang dan terheran-heran. Semua penduduk
gegak gempita ingin menyaksikan keindahan dan keelokannya.
Dan
dikatakan kepada mereka, “Andaikata sehelai bulu tersebut tidak jatuh,
niscaya tidak akan ada makhluk yang bernama burung di muka bumi ini.”
Kemudian burung Hudhud melanjutkan pembicaraannya, bahwa untuk
menggapai istana Simurg mereka harus bersatu, saling bekerja sama dan
tidak boleh saling mendahului. Setelah mendengar cerita yang disampaikan
oleh burung Hudhud, semua burung-burung bersemangat ingin sekali
secepatnya pergi menghadap sang Maharaja Simurg. Namun, burung Hudhud
menambahkan, bahwa perjalanan menuju istana Simurg tidak semudah yang
dibayangkan, melainkan harus melewati ribuan rintangan dan guncangan
dahsyat. Perjalanan juga sarat dengan penderitaan, kepedihan dan
kesengsaraan.
“Apakah kalian sudah siap ?” kata burung Hudhud,
menguji keseriusan mereka. Setelah mereka mendengarkan penjelasan
bagaimana suka dukanya, pahit getirnya perjalanan menuju istana Simurg,
ternyata semangat sebagian burung menjadi pudar dan turun.
Namun,
di antara burung-burung, ada seekor burung Kenari yang memberanikan
diri menyampaikan pendapatnya, “Aku adalah Imamul Asyiqin, imamnya
orang-orang yang asyik dan rindu. Aku sangat keberatan untuk ikut
berangkat, bagaimana nanti orang-orang rindu dengan kemerduan kicauanku
bila aku harus meninggalkan mereka. Bagaimana mungkin aku dapat berpisah
dari kembang-kembang mekarku ?” demikian alasan burung Kenari.
Selanjutnya, burung Merak berkata, “Dulu aku hidup di syurga bersama
Adam, lantas aku diusir dari syurga, rasanya aku ingin kembali ke tempat
tinggalku lagi. Karena itu, aku tidak mau ikut dalam rombongan.”
Kemudian disusul oleh Itik, “Aku sudah biasa hidup dalam kesucian, dan
aku juga terbiasa berenang di tempat yang kering kerontang. Aku tidak
mungkin hidup tanpa air,” kilah Itik.
Begitu juga burung Garuda,
“Saya sudah biasa hidup senang di gunung, bagaimana mungkin aku sanggup
meninggalkan tempatku yang menyenangkan”, alasan Garuda.
Kemudian
disusul burung Gelatik, “Aku hanya seekor burung kecil, dan lemah,
takkan mungkin sanggup ikut mengembara sejauh itu,” kata burung Gelatik.
Lantas burung Elang ikut menyahut, “Semua orang sudah tahu kedudukanku
yang tinggi ini, maka tidak mungkin aku meninggalkan tempat dan
kedudukan yang mulia ini, ” kata burung Elang.
Burung Hudhud
sebagai pemimpin sangat bijak dan sabar mendengar semua keluhan dan
alasan burung-burung yang enggan berangkat. Namun demikian, burung
Hudhud tetap bersemangat memberikan dorongan dan motivasi kepada mereka.
“Kenapa kalian harus berberlindung di balik dalil-dalil nafsumu,
sehingga semangatmu yang sudah membara menjadi padam? Padahal kalian
tahu bahwa perjalanan menuju istana Simurgh adalah perjalanan suci,
kenapa harus takut dan bimbang dengan prasangka yang ada pada dirimu?”
ucap Hudhud.
Kemudian ada seekor burung menyela, “Dengan cara apa
kita bisa sampai ke tempat Maharaja Simurgh yang jauh dan sulit itu?
“Dengan bekal himmah (semangat) yang tinggi, kemauan yang kuat, dan
tabah menghadapi segala cobaan dan rintangan. Bagi orang yang rindu,
seperti apapun cobaan akan dihadapi, dan seberapa pun rintangan akan
dilewati. Perlu diketahui bahwa Maharaja Simurg sudah jelas dan dekat,
laksana matahari dengan cahayanya,” jawab Hudhud meyakinkan.
Sabarlah,
bertawakkallah, karena bila kalian telah sanggup menempuh perjalanan
itu, kalian akan tetap berada dalam jalan yang benar,·demikian lanjut
Hudhud.
Setelah itu, bangkitlah semangat burung-burung
seolah-olah baru saja mendapatkan kekuatan baru untuk terus melangkah
menuju istana Simurg. Akhirnya, burung-burung yang berjumlah ribuan
sepakat untuk berangkat bersama-sama tanpa satupun yang tertinggal.
Perjalanan panjang telah dimulai, perbekalan telah disiapkan. Burung
Hudhud yang didaulat menjadi pemimpin mereka telah mengatur persiapan,
dengan membagi rombongan menjadi beberapa kelompok. Setelah perjalanan
cukup lama menembus lorong-lorong waktu, kegelisahan mulai datang
menimpa mereka.
“Mengapa perjalanan sudah lama dan jauh, kok tidak
sampai-sampai?” guman mereka di dalam hati.
Mulailah mereka dihinggapi
rasa malas karena menganggap perjalanan terlalu lama, mereka bosan
karena tidak lekas sampai. Perasaan mereka diliputi keraguan dan
kebimbangan. Kemudian sebagian burung ada yang memutuskan untuk tidak
melanjutkan perjalanan.
Namun burung-burung lain yang masih
memiliki stamina kuat dan himmah yang tinggi tidak menghiraukan
penderitaan yang mereka alami, dan melanjutkan perjalanan yang maha
panjang itu.
Tiba-tiba rintangan datang kembali, terpaan angin
yang sangat kencang menerpa mereka sehingga membuat bulu-bulu indah yang
dibanggakan berguguran. Kegagahan burung-burung perkasa pun mulai
pudar. Kedudukan dan pangkat yang tinggi sudah tidak terpikirkan.
Berbagai macam penyakit mulai menyerang mereka, kian lengkaplah
penderitaan yang dirasakan oleh para burung tersebut. Badan mereka kurus
kering, penyakit datang silih berganti membuat mereka makin tidak
berdaya. Semua atribut duniawi yang dulu disandang dan dibanggakan,
sekarang tanggal tanpa sisa, yang ada hanyalah totalitas kepasrahan
dalam ketidak berdayaan. Mereka hanyut dalam samudera iradatullah dan
tenggelam dalam gelombang fana’.
Pada akhirnya Cuma sedikit dari
mereka yang benar-benar sampai ke tempat yang teramat mulia dimana
Simurg membangun mahligainya. Dari ribuan burung yang pergi, tinggal 30
ekor yang masih bertahan dan akhirnya sampai di gerbang istana Simurgh.
Namun kondisi mereka sangat memprihatinkan, tampak gurat-gurat kelelahan
di wajah mereka. Bahkan bulu-bulu yang menempel di tubuh mereka rontok
tak bersisa. Di sini terlihat, meski mereka berasal dari latar belakang
berbeda, namun pada proses puncak pencapaian spiritual adalah sama,
yaitu dalam kondisi telanjang bulat dan lepas dari pakaian basyariyah.
Kemudian di depan gerbang istana mereka beristirahat sejenak sambil
mengatur nafas. Tiba-tiba datang penjaga istana menghampiri mereka, “Apa
tujuan kalian susah payah datang ke istana Simurgh?” kata penjaga
istana. Serentak mereka menjawab, “Saya datang untuk menghadap Maharaja
Simurg, berilah kami kesempatan untuk bertemu dengannya.”
Tanpa
diduga, terdengar suara sayup-sayup menyapa mereka dari dalam istana,
“Salaamun qaulam min rabbir rahiim” sembari mempersilahkan mereka masuk
ke dalam. Lalu mereka masuk secara bersama-sama. Kemudian terbukalah
kelambu hijab satu demi satu yang berjumlah ribuan. Mata mereka
terbelalak memandang keindahan yang amat mempesona, keindahan yang tidak
pernah dibayangkan sebelumnya, keindahan yang tidak bisa dilukiskan
dengan kata-kata.
Tatkala seluruh hijab tersingkap, ternyata yang
dijumpai adalah wujud dirinya. Burung-burung pun saling bertanya dan
terkagum-kagum,
“Lho kok aku sudah ada disini?” begitu guman mereka
dalam hati. Seolah-olah mereka berada di depan cermin sehingga yang ada
adalah wujud dirinya.
Maka datanglah suara lembut menjawabnya, “Mahligai
Simurgh ibarat cermin, maka siapapun yang sampai pada mahligai ini,
tidak akan melihat wujud selain wujud diri sendiri. Perjumpaan ini di
luar angan dan pikirmu, dan juga tidak dapat dilukiskan dengan
kata-kata, namun hanya dapat dirasakan dengan rasa. Karena itu, engkau
harus keluar dari dalam dirimu sehingga engkau menjadi sosok pribadi
Insan Kamil.”
Akhirnya, mereka memahami hakikat dirinya, setelah
melewati tahapan fana’ billah hingga mencapai puncak baqa’ billah. Maka
hilanglah sifat-sifat kehambaan dan kekal dalam ketuhanan.
Semoga bermanfaat Allaahumma aamiin...
Wallaahu a'lam bish shawab wassalamu'alaikum wa rahmatullaahi ta'ala wa barakatuh.
KISAH HAJINYA SEORANG TUKANG SEPATU
(Diambil dari buku “Warisan Para Awliya” karya Farid al-Din Attar)
Abdullah bin al-Mubarak hidup di Mekkah. Pada suatu waktu, setelah
menyelesaikan ritual ibadah haji, dia tertidur dan bermimpi melihat dua
malaikat yang turun dari langit.
“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“600.000,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun”
Percakapan ini membuat Abdullah gemetar. “Apa?” aku menangis.
“Semua
orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan
kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana
menyusuri padang pasing yang luas, dan semua usaha mereka menjadi
sia-sia?”
“Ada seorang tukang sepatu di Damaskus yang dipanggil
Ali bin Mowaffaq.” Kata malaikat yang pertama.
“Dia tidak datang
menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh
dosanya telah diampuni.”
Ketika aku mendengar hal ini, aku
terbangun dan memutuskan untuk pergi menuju Damaskus dan mengunjungi
orang ini. Jadi aku pergi ke Damaskus dan menemukan tempat dimana ia
tinggal. Aku menyapanya dan ia keluar.
“ Siapakah namamu dan pekerjaan
apa yang kau lakukan?” tanyaku.
“Aku Ali bin Mowaffaq, penjual sepatu.
Siapakah namamu?”
Kepadanya aku mengatakan Abdullah bin
al-Mubarak. Ia tiba-tiba menangis dan jatuh pingsan. Ketika ia sadar,
aku memohon agar ia bercerita kepadaku.
Dia mengatakan: “Selama 40 tahun
aku telah rindu untuk melakukan perjalanan haji ini. Aku telah
menyisihkan 350 dirham dari hasil berdagang sepatu. Tahun ini aku
memutuskan untuk pergi ke Mekkah, sejak istriku mengandung. Suatu hari
istriku mencium aroma makanan yang sedang dimasak oleh tetangga sebelah,
dan memohon kepadaku agar ia bisa mencicipinya sedikit. Aku pergi
menuju tetangga sebelah, mengetuk pintunya kemudian menjelaskan
situasinya. Tetanggaku mendadak menagis.
“Sudah tiga hari ini anakku
tidak makan apa-apa,” katanya.
“Hari ini aku melihat keledai mati
tergeletak dan memotongnya kemudian memasaknya untuk mereka. Ini bukan
makanan yang halal bagimu.”
Hatiku serasa terbakar ketika aku mendengar
ceritanya. Aku mengambil 350 dirhamku dan memberikan kepadanya.
“Belanjakan ini untuk anakmu,” kataku.
“Inilah perjalanan hajiku.”
“Malaikat berbicara dengan nyata di dalam mimpiku,” kata Abdullah, “dan
Penguasa kerajaan surga adalah benar dalam keputusanNya.”
******
Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi lahir
pada tahun 118 H/736 M. Ia adalah seorang ahli Hadits yang terkemuka dan
seorang petapa termasyhur. Ia sangat ahli di dalam berbagai cabang ilmu
pengetahuan, antara lain di dalam bidang gramatika dan kesusastraan. Ia
adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan kepada
orang-orang miskin. Ia meninggal dunia di kota Hit yang terletak di tepi
sungai Euphrat pada tahun 181 H/797 M.
Semoga bermanfaat Allaahumma aamiin...
Wallaahu a'lam bish shawab wassalamu'alaikum wa rah matullaahi ta'ala wa barakatuh.
Langganan:
Postingan (Atom)