(Karya Fariduddin Attar)
Dikisahkan, segala
burung di dunia, yang dikenal atau tidak dikenal, datang berkumpul.
Mereka sama-sama memiliki satu pertanyaan, siapakah raja mereka? Di
antara mereka ada yang berkata, “Rasanya tak mungkin negeri dunia ini
tidak memiliki raja. Maka rasanya mustahil bila kerajaan burung-burung
tanpa penguasa! Jadi, kita semua memiliki Raja, ya, Raja.”
Semua burung tertegun, seperti ada keraguan yang mengawang-awang.
“Keadaan semacam ini tak bisa dibiarkan terus menerus. Hidup kita ini
akan percuma bila sepanjang hayat kita, kita tidak pernah mengetahui,
dan mengenal siapa Raja kita sesungguhnya.”
Masing-masing dari mereka masih berfikir dan terdiam. Lalu kembali ada yang berteriak, “Lalu apa yang harus kita lakukan?”
“Tentu saja kita harus berusaha bersama-sama mencari seorang raja untuk
kita semua; karena tidak ada negeri yang memiliki tatanan yang baik,
tanpa seorang raja.· Mereka pun mulai berkumpul dan bersidang untuk
memecahkan persoalan. Burung Hudhud dengan semangat dan penuh rasa
percaya diri, tampil ke depan dan menempatkan diri di tengah majelis
burung-burung itu. Di dadanya tampak perhiasan yang melambangkan bahwa
dia telah memiliki pancaran ruhaniah yang tinggi. Dan jambul di
kepalanya tegak berdiri mahkota yang melambangkan keagungan dan
kebenaran, dan dia juga memiliki pengetahuan luas tentang baik dan
buruk.
Burung-burung sekalian, kata Hudhud, kita mempunyai raja
sejati, ia tinggal jauh di balik gunung-gunung Qaf. Ribuan daratan dan
lautan terbentang sepanjang perjalanan menuju tempatnya. Namanya
Simurgh. Aku kenal raja itu dengan baik, tapi aku tak bisa terbang
sendiri menemuinya. Bebaskan dirimu dari rasa malu, sombong, dan ingkar.
Dia pasti akan melimpahkan cahaya bagi mereka yang sanggup melepaskan
belenggu diri. Mereka yang demikian akan bebas dari baik dan buruk,
karena berada di jalan kekasih-Nya. Sesungguhnya Dia dekat dengan kita,
tapi kita jauh dari-Nya.
Dikisahkan, pada suatu malam sang
Maharaja Simurgh terbang di kegelapan malam. Tiba-tiba jatuhlah sehelai
bulunya yang membuat geger seluruh penduduk bumi. Begitu mempesonanya
bulu Simurg hingga membuat tercengang dan terheran-heran. Semua penduduk
gegak gempita ingin menyaksikan keindahan dan keelokannya.
Dan
dikatakan kepada mereka, “Andaikata sehelai bulu tersebut tidak jatuh,
niscaya tidak akan ada makhluk yang bernama burung di muka bumi ini.”
Kemudian burung Hudhud melanjutkan pembicaraannya, bahwa untuk
menggapai istana Simurg mereka harus bersatu, saling bekerja sama dan
tidak boleh saling mendahului. Setelah mendengar cerita yang disampaikan
oleh burung Hudhud, semua burung-burung bersemangat ingin sekali
secepatnya pergi menghadap sang Maharaja Simurg. Namun, burung Hudhud
menambahkan, bahwa perjalanan menuju istana Simurg tidak semudah yang
dibayangkan, melainkan harus melewati ribuan rintangan dan guncangan
dahsyat. Perjalanan juga sarat dengan penderitaan, kepedihan dan
kesengsaraan.
“Apakah kalian sudah siap ?” kata burung Hudhud,
menguji keseriusan mereka. Setelah mereka mendengarkan penjelasan
bagaimana suka dukanya, pahit getirnya perjalanan menuju istana Simurg,
ternyata semangat sebagian burung menjadi pudar dan turun.
Namun,
di antara burung-burung, ada seekor burung Kenari yang memberanikan
diri menyampaikan pendapatnya, “Aku adalah Imamul Asyiqin, imamnya
orang-orang yang asyik dan rindu. Aku sangat keberatan untuk ikut
berangkat, bagaimana nanti orang-orang rindu dengan kemerduan kicauanku
bila aku harus meninggalkan mereka. Bagaimana mungkin aku dapat berpisah
dari kembang-kembang mekarku ?” demikian alasan burung Kenari.
Selanjutnya, burung Merak berkata, “Dulu aku hidup di syurga bersama
Adam, lantas aku diusir dari syurga, rasanya aku ingin kembali ke tempat
tinggalku lagi. Karena itu, aku tidak mau ikut dalam rombongan.”
Kemudian disusul oleh Itik, “Aku sudah biasa hidup dalam kesucian, dan
aku juga terbiasa berenang di tempat yang kering kerontang. Aku tidak
mungkin hidup tanpa air,” kilah Itik.
Begitu juga burung Garuda,
“Saya sudah biasa hidup senang di gunung, bagaimana mungkin aku sanggup
meninggalkan tempatku yang menyenangkan”, alasan Garuda.
Kemudian
disusul burung Gelatik, “Aku hanya seekor burung kecil, dan lemah,
takkan mungkin sanggup ikut mengembara sejauh itu,” kata burung Gelatik.
Lantas burung Elang ikut menyahut, “Semua orang sudah tahu kedudukanku
yang tinggi ini, maka tidak mungkin aku meninggalkan tempat dan
kedudukan yang mulia ini, ” kata burung Elang.
Burung Hudhud
sebagai pemimpin sangat bijak dan sabar mendengar semua keluhan dan
alasan burung-burung yang enggan berangkat. Namun demikian, burung
Hudhud tetap bersemangat memberikan dorongan dan motivasi kepada mereka.
“Kenapa kalian harus berberlindung di balik dalil-dalil nafsumu,
sehingga semangatmu yang sudah membara menjadi padam? Padahal kalian
tahu bahwa perjalanan menuju istana Simurgh adalah perjalanan suci,
kenapa harus takut dan bimbang dengan prasangka yang ada pada dirimu?”
ucap Hudhud.
Kemudian ada seekor burung menyela, “Dengan cara apa
kita bisa sampai ke tempat Maharaja Simurgh yang jauh dan sulit itu?
“Dengan bekal himmah (semangat) yang tinggi, kemauan yang kuat, dan
tabah menghadapi segala cobaan dan rintangan. Bagi orang yang rindu,
seperti apapun cobaan akan dihadapi, dan seberapa pun rintangan akan
dilewati. Perlu diketahui bahwa Maharaja Simurg sudah jelas dan dekat,
laksana matahari dengan cahayanya,” jawab Hudhud meyakinkan.
Sabarlah,
bertawakkallah, karena bila kalian telah sanggup menempuh perjalanan
itu, kalian akan tetap berada dalam jalan yang benar,·demikian lanjut
Hudhud.
Setelah itu, bangkitlah semangat burung-burung
seolah-olah baru saja mendapatkan kekuatan baru untuk terus melangkah
menuju istana Simurg. Akhirnya, burung-burung yang berjumlah ribuan
sepakat untuk berangkat bersama-sama tanpa satupun yang tertinggal.
Perjalanan panjang telah dimulai, perbekalan telah disiapkan. Burung
Hudhud yang didaulat menjadi pemimpin mereka telah mengatur persiapan,
dengan membagi rombongan menjadi beberapa kelompok. Setelah perjalanan
cukup lama menembus lorong-lorong waktu, kegelisahan mulai datang
menimpa mereka.
“Mengapa perjalanan sudah lama dan jauh, kok tidak
sampai-sampai?” guman mereka di dalam hati.
Mulailah mereka dihinggapi
rasa malas karena menganggap perjalanan terlalu lama, mereka bosan
karena tidak lekas sampai. Perasaan mereka diliputi keraguan dan
kebimbangan. Kemudian sebagian burung ada yang memutuskan untuk tidak
melanjutkan perjalanan.
Namun burung-burung lain yang masih
memiliki stamina kuat dan himmah yang tinggi tidak menghiraukan
penderitaan yang mereka alami, dan melanjutkan perjalanan yang maha
panjang itu.
Tiba-tiba rintangan datang kembali, terpaan angin
yang sangat kencang menerpa mereka sehingga membuat bulu-bulu indah yang
dibanggakan berguguran. Kegagahan burung-burung perkasa pun mulai
pudar. Kedudukan dan pangkat yang tinggi sudah tidak terpikirkan.
Berbagai macam penyakit mulai menyerang mereka, kian lengkaplah
penderitaan yang dirasakan oleh para burung tersebut. Badan mereka kurus
kering, penyakit datang silih berganti membuat mereka makin tidak
berdaya. Semua atribut duniawi yang dulu disandang dan dibanggakan,
sekarang tanggal tanpa sisa, yang ada hanyalah totalitas kepasrahan
dalam ketidak berdayaan. Mereka hanyut dalam samudera iradatullah dan
tenggelam dalam gelombang fana’.
Pada akhirnya Cuma sedikit dari
mereka yang benar-benar sampai ke tempat yang teramat mulia dimana
Simurg membangun mahligainya. Dari ribuan burung yang pergi, tinggal 30
ekor yang masih bertahan dan akhirnya sampai di gerbang istana Simurgh.
Namun kondisi mereka sangat memprihatinkan, tampak gurat-gurat kelelahan
di wajah mereka. Bahkan bulu-bulu yang menempel di tubuh mereka rontok
tak bersisa. Di sini terlihat, meski mereka berasal dari latar belakang
berbeda, namun pada proses puncak pencapaian spiritual adalah sama,
yaitu dalam kondisi telanjang bulat dan lepas dari pakaian basyariyah.
Kemudian di depan gerbang istana mereka beristirahat sejenak sambil
mengatur nafas. Tiba-tiba datang penjaga istana menghampiri mereka, “Apa
tujuan kalian susah payah datang ke istana Simurgh?” kata penjaga
istana. Serentak mereka menjawab, “Saya datang untuk menghadap Maharaja
Simurg, berilah kami kesempatan untuk bertemu dengannya.”
Tanpa
diduga, terdengar suara sayup-sayup menyapa mereka dari dalam istana,
“Salaamun qaulam min rabbir rahiim” sembari mempersilahkan mereka masuk
ke dalam. Lalu mereka masuk secara bersama-sama. Kemudian terbukalah
kelambu hijab satu demi satu yang berjumlah ribuan. Mata mereka
terbelalak memandang keindahan yang amat mempesona, keindahan yang tidak
pernah dibayangkan sebelumnya, keindahan yang tidak bisa dilukiskan
dengan kata-kata.
Tatkala seluruh hijab tersingkap, ternyata yang
dijumpai adalah wujud dirinya. Burung-burung pun saling bertanya dan
terkagum-kagum,
“Lho kok aku sudah ada disini?” begitu guman mereka
dalam hati. Seolah-olah mereka berada di depan cermin sehingga yang ada
adalah wujud dirinya.
Maka datanglah suara lembut menjawabnya, “Mahligai
Simurgh ibarat cermin, maka siapapun yang sampai pada mahligai ini,
tidak akan melihat wujud selain wujud diri sendiri. Perjumpaan ini di
luar angan dan pikirmu, dan juga tidak dapat dilukiskan dengan
kata-kata, namun hanya dapat dirasakan dengan rasa. Karena itu, engkau
harus keluar dari dalam dirimu sehingga engkau menjadi sosok pribadi
Insan Kamil.”
Akhirnya, mereka memahami hakikat dirinya, setelah
melewati tahapan fana’ billah hingga mencapai puncak baqa’ billah. Maka
hilanglah sifat-sifat kehambaan dan kekal dalam ketuhanan.
Semoga bermanfaat Allaahumma aamiin...
Wallaahu a'lam bish shawab wassalamu'alaikum wa rahmatullaahi ta'ala wa barakatuh.