(Dinukil dari Kitab Baghowi dan Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1)
Di kalangan Bani Israil hiduplah seorang kaya raya. Dia mempunyai
saudara sepupu yang fakir. Tidak ada ahli waris selain dirinya. Ketika
orang kaya tersebut tidak lekas mati, maka saudara sepupu ini
membunuhnya agar dia dapat mewarisi hartanya. Lalu dia membawa mayat
saudaranya ke desa lain lalu melemparkan di pelataran desa. Kemudian dia
berlagak hendak menuntut balas. Dia bersama orang-orang mendatangi Nabi
Musa ‘alaihissalam lalu mereka memohon kepada Nabi Musa ‘alaihissalam
agar berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya diberi keterangan
mengenai pembunuh orang tersebut.
Kemudian Nabi Musa
‘alaihissalam memerintahkan mereka agar menyembelih sapi dengan berkata
kepada mereka: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi
betina.”
Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” (QS. Al-Baqarah: 67).
Maksudnya, apakah engkau mengejek kami, padahal kami bertanya kepadamu
mengenai orang yang terbunuh, dan engkau justru memerintahkan kami agar
menyembelih sapi.
Lantas Nabi Musa ‘alaihissalam menjawab: “Aku
berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.”
(QS. Al-Baqarah: 67)
Maksudnya, termasuk orang-orang yang mengejek kaum mukmin.
Ketika orang-orang mengetahui bahwa menyembelih sapi merupakan rencana
dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mereka menanyakan ciri-ciri sapi
tersebut kepada Nabi Musa ‘alaihissalam.
Ternyata di balik hal
tersebut ada hikmah besar, yaitu bahwa di kalangan Bani Israil terdapat
orang shalih. Dia mempunyai anak laki-laki yang masih kecil dan dia
mempunyai anak sapi betina. Dia membawa anak sapi tersebut ke dalam
hutan dan berkata, “Ya Allah! Saya menitipkan anak sapi ini kepada-Mu
untuk anakku kelak jika dia dewasa.”
Selanjutnya orang shalih ini
meninggal dunia, sehingga anak sapi ini masih di hutan sampai
bertahun-tahun. Anak sapi itu berlari setiap kali dilihat oleh orang.
Ketika anak orang shalih tadi telah dewasa, dia menjadi anak yang
berbakti kepada kedua orang tuanya. Dia membagi malamnya menjadi tiga
bagian. Dia melaksanakan shalat dalam sepertiga malam, tidur dalam
sepertiga malam, dan duduk di samping ibunya dalam sepertiga malam. Di
pagi hari dia mencari kayu bakar yang ditaruh di punggungnya, lalu
datang ke pasar untuk menjual kayunya sesuai kehendak Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Kemudian dia menyedekahkan sepertiganya, memakan sepertiganya,
dan memberikan kepada sang ibu sepertiganya.
Pada suatu hari sang
ibu berkata kepadanya, “Sesungguhnya ayahmu telah mewariskan anak sapi
betina untukmu yang dia titipkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di
hutan ini, maka berangkatlah! Berdoalah kepada Rabb Nabi Ibrahim
‘alaihissalam, Nabi Ismail ‘alaihissalam, dan Nabi Ishaq ‘alaihissalam
agar mengembalikan anak sapi tersebut kepadamu. Ciri-cirinya, jika
engkau melihatnya, kamu membayangkan seakan-akan sinar matahari memancar
dari kulitnya. Dia diberi nama ‘Al-Mudzahhabah’ karena keindahan dan
kejernihannya.”
Kemudian anak tersebut memasuki hutan, lalu dia
melihat anak sapi sedang merumput, lantas dia memanggilnya dengan
mengatakan, “Saya bermaksud kepadamu dengan menyebut nama Rabb Nabi
Ibrahim ‘alaihissalam, Nabi Ismail ‘alaihissalam, dan Nabi Ishaq
‘alaihissalam.” Kontan sapi itu menengok ke arahnya dan berjalan
mendekatinya sehingga sapi tersebut berdiri di hadapannya. Dia lalu
memegang lehernya dan menuntunnya.
Dengan izin Allah Subhanahu wa
Ta’ala, tiba-tiba sapi tersebut bicara, “Wahai anak yang berbakti
kepada kedua orang tua! Tunggangilah aku, karena hal itu lebih
meringankanmu.’
Anak tersebut berkata, “Sesungguhnya ibuku tidak
memerintahkanku melakukan hal itu. Akan tetapi, beliau berkata
‘peganglah lehernya.”
Sapi itu berkata, “Demi Rabb Bani Israil,
jika engkau menunggangiku, niscaya kamu tidak dapat menguasaiku untuk
selamanya. Ayo berangkat! Sungguh, jika engkau memerintahkan gunung
melepaskan diri dari pangkalnya dan berjalan bersamamu, niscaya ia
melakukannya lantaran baktimu kepada ibumu.”
Lantas pemuda
tersebut berjalan bersama sapi menemui ibunya. Sang ibu berkata
kepadanya, “Sesungguhnya engkau orang fakir. Engkau tidak memiliki
harta. Engkau kerepotan mencari kayu bakar di siang hari dan melakukan
qiyamul lail di malam hari. Oleh karena itu, pergilah. Jual sapi ini!”
Si anak bertanya , “Saya jual dengan harga berapa?”
Ibunya menjawab, “Tiga dinar. Engkau jangan menjual tanpa
pertimbanganku.” Harga sapi telah dipatok tiga dinar. Sang anak pun
berangkat ke pasar.
Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus
malaikat agar dia melihat makhluk-Nya dan kekuasaan-Nya sekaligus untuk
menguji pemuda tersebut bagaimana baktinya kepada ibunya. Sungguh, Allah
Subhanahu wa Ta’ala mengetahui hal tersebut.
Sang malaikat bertanya, “Kamu jual sapi ini dengan harga berapa?”
Dia menjawab, “Tiga dinar. Dengan catatan ibuku meridhainya.”
Lantas malaikat berkata, “Saya beli enam dinar. Tetapi engkau tidak perlu meminta persetujuan ibumu.”
Pemuda itu berkata, “Seandainya engkau memberiku emas seberat sapi ini
pun, saya tidak akan mengambilnya melainkan dengan ridha ibuku.”
Kemudian dia membawa pulang sapi kepada ibunya dan dia menceritakan tentang harganya.
Lalu sang ibu berkata, “Kembali lagi! Juallah dengan harga enam dinar berdasarkan ridha dariku.’
Dia pun berangkat ke pasar dan menemui malaikat. Sang malaikat bertanya, “Apakah engkau telah meminta persetujuan ibumu?”
Pemuda itu menjawab, “Beliau menyuruhku agar tidak mengurangi harganya
dari enam dinar dengan catatan saya meminta persetujuan ibu.”
Sang malaikat berkata, “Saya akan memberimu dua belas dinar.”
Pemuda itupun menolak, lalu kembali kepada ibunya dan menceritakan hal tersebut kepadanya.
Ibunya berkata, “Sungguh, orang yang mendatangimu adalah malaikat dalam
bentuk manusia untuk mengujimu. Jika dia mendatangimu lagi, katakan
padanya, ‘Apakah engkau memerintahkan kami untuk menjual sapi ini
ataukah tidak?”
Pemuda itu pun melakukan hal tersebut, lalu
malaikat berkata, “Kembalilah kepada ibumu. Dan tolong sampaikan
padanya, ‘Biarkanlah sapi ini. Sungguh Nabi Musa bin Imran ‘alaihissalam
akan membelinya dari kalian untuk mengungkap korban pembunuhan
seseorang di kalangan kaum Bani Israil. Janganlah engkau menjualnya
kecuali dengan kepingan dinar yang memenuhi kulitnya. Oleh karena itu,
tahan dulu sapi ini.’”
Allah Subhanahu wa Ta’ala memang
menakdirkan orang-orang Bani Israil yang menyembelih sapi itu. Mereka
terus-menerus menanyakan ciri-ciri sapi tersebut dan ternyata ciri-ciri
yang diberikan sesuai dengan ciri-ciri sapi pemuda shalih tersebut. Hal
ini merupakan imbalan bagi pemuda tersebut atas baktinya kepada sang ibu
sebagai anugerah dan kasih sayang.
Akhirnya mereka pun membeli
sapi tersebut dengan emas sepenuh kulit sapi. Lantas mereka menyembelih
sapi tersebut kemudian memukulkan bagian dari sapi kepada korban
pembunuhan sebagaimana perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selanjutnya
orang yang terbunuh bangkit; hidup lagi dengan izin Allah, sedang urat
lehernya masih mengalirkan darah. Lalu dia berkata, “Yang membunuh saya
adalah fulan.” Kemudian dia jatuh dan mati di tempatnya. Maka, si
pembunuh terhalang mendapat warisan.
Semoga bermanfaat Allaahumma aamiin...
Wallaahu a'lam bish shawab wassalamu'alaikum wa rahmatullaahi ta'ala wa barakatuh.
"Sesungguhnya Allah SWT dan para malaikatNya bersholawat untuk Nabi Muhammad Saw. Wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah kamu atas Nabi dan ucapkanlah salam dengan penghormatan kepadanya" [QS. Al Ahzab : 56]
Senin, 19 Oktober 2015
TAUBATNYA MALIK BIN DINAR ROHIMAHULLAH
(Dinukil dari Misanul I’tidal, III/426)
Kehidupanku dimulai dengan kesia-siaan, mabuk-mabukan, maksiat, berbuat
zhalim kepada manusia, memakan hak manusia, memakan riba, dan memukuli
manusia. Kulakukan segala kezhaliman, tidak ada satu maksiat melainkan
aku telah melakukannya. Sungguh sangat jahat hingga manusia tidak
menghargaiku karena kebejatanku.
Pada suatu hari, aku merindukan
pernikahan dan memiliki anak. Maka kemudian aku menikah dan dikaruniai
seorang puteri yang kuberi nama Fathimah. Aku sangat mencintainya.
Setiap kali dia bertambah besar, bertambah pula keimanan di dalam hatiku
dan semakin sedikit maksiat di dalam hatiku. Pernah suatu ketika
Fathimah melihatku memegang segelas khamr, maka diapun mendekat kepadaku
dan menyingkirkan gelas tersebut hingga tumpah mengenai bajuku. Saat
itu umurnya belum genap dua tahun. Seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta’ala
-lah yang membuatnya melakukan hal tersebut.
Setiap kali dia
bertambah besar, semakin bertambah pula keimanan di dalam hatiku. Setiap
kali aku mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala selangkah,
maka setiap kali itu pula aku menjauhi maksiat sedikit demi sedikit.
Hingga usia Fathimah genap tiga tahun, saat itulah Fathimah meninggal.
Maka akupun berubah menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya. Aku
belum memiliki sikap sabar yang ada pada diri seorang mukmin yang dapat
menguatkanku di atas cobaan musibah. Kembalilah aku menjadi lebih buruk
dari sebelumnya. Setanpun mempermainkanku, hingga datang suatu hari,
setan berkata kepadaku: “Sungguh hari ini engkau akan mabuk-mabukan
dengan mabuk yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Maka aku
bertekad untuk mabuk dan meminum khamr sepanjang malam. Aku minum, minum
dan minum. Maka aku lihat diriku telah terlempar di alam mimpi.
Di alam mimpi tersebut aku melihat hari kiamat. Matahari telah gelap,
lautan telah berubah menjadi api, dan bumipun telah bergoncang. Manusia
berkumpul pada hari kiamat. Manusia dalam keadaan berkelompok-kelompok.
Sementara aku berada di antara manusia, mendengar seorang penyeru
memanggil: Fulan ibn Fulan, kemari! Mari menghadap al-Jabbar. Aku
melihat si Fulan tersebut berubah wajahnya menjadi sangat hitam karena
sangat ketakutan. Sampai aku mendengar seorang penyeru menyeru namaku:
“Mari menghadap al-Jabbar!”
Kemudian hilanglah seluruh manusia
dari sekitarku seakan-akan tidak ada seorangpun di padang Mahsyar.
Kemudian aku melihat seekor ulat besar yang ganas lagi kuat merayap
mengejar kearahku dengan membuka mulutnya. Akupun lari karena sangat
ketakutan. Lalu aku mendapati seorang laki-laki tua yang lemah. Akupun
berkata: “Hai, selamatkanlah aku dari ular ini!” Dia menjawab: “Wahai
anakku aku lemah, aku tak mampu, akan tetapi larilah kearah ini
mudah-mudahan engkau selamat!”
Akupun berlari kearah yang
ditunjukkannya, sementara ular tersebut berada di belakangku. Tiba-tiba
aku mendapati api ada dihadapanku. Akupun berkata: “Apakah aku melarikan
diri dari seekor ular untuk menjatuhkan diri ke dalam api?” Akupun
kembali berlari dengan cepat sementara ular tersebut semakin dekat. Aku
kembali kepada lelaki tua yang lemah tersebut dan berkata: “Demi Allah,
wajib atasmu menolong dan menyelamatkanku.” Maka dia menangis karena iba
dengan keadaanku seraya berkata: “Aku lemah sebagaimana engkau lihat,
aku tidak mampu melakukan sesuatupun, akan tetapi larilah kearah gunung
tersebut mudah-mudahan engkau selamat!”
Akupun berlari menuju
gunung tersebut sementara ular akan mematukku. Kemudian aku melihat di
atas gunung tersebut terdapat anak-anak kecil, dan aku mendengar semua
anak tersebut berteriak: “Wahai Fathimah tolonglah ayahmu, tolonglah
ayahmu!”
Selanjutnya aku mengetahui bahwa dia adalah putriku.
Akupun berbahagia bahwa aku mempunyai seorang putri yang meninggal pada
usia tiga tahun yang akan menyelamatkanku dari situasi tersebut. Maka
diapun memegangku dengan tangan kanannya, dan mengusir ular dengan
tangan kirinya sementara aku seperti mayit karena sangat ketakutan. Lalu
dia duduk di pangkuanku sebagaimana dulu di dunia.
Dia berkata
kepadaku: “Wahai ayah, “belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang
beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (Qs. Al-Hadid:16)
Maka kukatakan: “Wahai putriku, beritahukanlah kepadaku tentang ular itu.”
Dia berkata: “Itu adalah amal keburukanmu, engkau telah membesarkan dan
menumbuhkannya hingga hampir memakanmu. Tidakkah engkau tahu wahai
ayah, bahwa amal-amal di dunia akan dirupakan menjadi sesosok bentuk
pada hari kiamat? Dan lelaki yang lemah tersebut adalah amal shalihmu,
engkau telah melemahkannya hingga dia menangis karena kondisimu dan
tidak mampu melakukan sesuatu untuk membantu kondisimu. Seandainya saja
engkau tidak melahirkanku, dan seandainya saja tidak mati saat masih
kecil, tidak akan ada yang bisa memberikan manfaat kepadamu.”
Dia
Rohimahullah berkata: Akupun terbangun dari tidurku dan berteriak:
“Wahai Rabbku, sudah saatnya wahai Rabbku, ya, “Belumkah datang waktunya
bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat
Allah.” Lantas aku mandi dan keluar untuk shalat subuh dan ingin segera
bertaubat dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dia Rohimahullah berkata: Akupun masuk ke dalam masjid dan ternyata imampun membaca ayat yang
sama: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk
tunduk hati mereka mengingat Allah.” (Qs. Al-Hadid: 16)
…..
Itulah kisah taubatnya Malik bin Dinar Rohimahullah yang beliau
kemudian menjadi salah seorang imam generasi tabi’in, dan termasuk ulama
Basrah. Dia dikenal selalu menangis sepanjang malam dan berkata: “Ya
Ilahi, hanya Engkaulah satu-satunya Dzat Yang Mengetahui penghuni sorga
dan penghuni neraka, maka yang manakah aku di antara keduanya? Ya Allah,
jadikanlah aku termasuk penghuni sorga dan jangan jadikan aku termasuk
penghuni neraka.”
Malik bin Dinar Rohimahullah bertaubat dan dia
dikenal pada setiap harinya selalu berdiri di pintu masjid berseru:
“Wahai para hamba yang bermaksiat, kembalilah kepada Penolong-mu! Wahai
orang-orang yang lalai, kembalilah kepada Penolong-mu! Wahai orang yang
melarikan diri (dari ketaatan), kembalilah kepada Penolong-mu!
Penolong-mu senantiasa menyeru memanggilmu di malam dan siang hari. Dia
berfirman kepadamu: “Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada-Ku satu
jengkal, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu hasta. Jika
dia mendekatkan dirinya kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekatkan
diri-Ku kepadanya satu depa. Siapa yang mendatangi-Ku dengan berjalan,
Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil.”
Aku memohon kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan rizki taubat kepada kita.
Tidak ada sesembahan yang hak selain Engkau, Maha Suci Engkau,
sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim.
Malik bin
Dinar Rohimahullah wafat pada tahun 130 H. Semoga Allah Subhanahu wa
Ta’ala merahmatinya dengan rahmat-Nya yang luas.
Sumber: Qiblati edisi 06 tahun II – Maret 2007 M /Shafar 1428 H
Semoga bermanfaat Allaahumma aamiin...
Wallaahu a'lam bish shawab wassalamu'alaikum wa rahmatullaahi ta'ala wa barakatuh.
Wallaahu a'lam bish shawab wassalamu'alaikum wa rahmatullaahi ta'ala wa barakatuh.
Langganan:
Postingan (Atom)