Selasa, 22 September 2015

KISAH AL IMAM JUNAID AL BAGHDADI : MASYHUR SEBAB KECINTAAN PADA AHLUL BAIT

Di waktu mudanya Sayyidinaa Al Imam Syaikh Junaid bin Muhammad Abu Al Qosim Al Baghdadi adalah seorang yang memiliki badan kekar dan menunjang hidupnya dengan cara bermata pencaharian sebagai pegulat profesional.

Dan seperti biasa, setiap tahunnya diadakan kontes gulat oleh Penguasa Baghdad dan mereka mengumumkan: "Hari ini, Junaid Baghdadi (juara bertahan) akan menunjukkan keahliannya sebagai pegulat, apakah ada orang yang berani menantangnya?"

Lalu seorang pria tua, berdiri dengan leher gemetar dan berkata: "Aku akan ikut masuk kontes ini dan menantang dia."

Siapapun yang menyaksikan adegan ini tidak bisa menahan diri, mereka meledak tertawa dan bertepuk tangan. Raja pun sudah terikat oleh aturan hukum. Dia tidak bisa menghentikan seseorang yang dari kehendak bebasnya sendiri ingin memasuki pertarungan. Orang tua itu diberi izin untuk memasuki ring. Ia berusia sekitar 65 tahun. Ketika sang juara bertahan Junaid al-Baghdadi memasuki ring, ia tercengang sebagaimana Raja dan semua penonton yang hadir. Semua memiliki pikiran yang sama, "Bagaimana mungkin orang tua ini akan mampu melawan dan menang?"

Orang tua itu berjabat tangan dengan Imam Junaid dan dengan suara lirih berkata: "Dekatkanlah aku kepada telingamu."

(Dengarkan kata-kataku) Ia kemudian berbisik: "Aku tahu bahwa tidak mungkin bagiku untuk memenangkan pertarungan ini. Aku adalah seorang Sayyid, keturunan Nabi Muhammad ﷺ. Anak-anakku sedang kelaparan di rumah. Apakah engkau siap untuk mengorbankan namamu, kehormatan dan posisimu untuk cinta pada Nabi Allah dan kehilangan pertarungan ini karenaku? Jika engkau melakukan hal ini, aku akan dapat mengumpulkan uang hadiahnya dan dengan demikian memiliki sarana untuk memberi makan anak-anakku dan aku sendiri dapat memenuhi kebutuhan selama satu tahun penuh. Aku akan dapat menyelesaikan pembayaran semua hutangku dan di atas semuanya, Rasulullah ﷺ akan senang/ridha dengan engkau. Apakah engkau, wahai Junaid, tidak bersedia mengorbankan kehormatanmu demi anak-anak cucu Rasulullah?"

Junaid al-Baghdadi berpikir sejenak dan berkata: "Toyyib, hari ini aku memiliki kesempatan yang sangat baik."

Akhirnya dengan tampilan yang bersemangat Junaid al-Baghdadi menunjukkan beberapa manuver, menunjukkan kemahiran bergulatnya sehingga Raja tidak menduga ada konspirasi apapun. Junaid dengan kemahiran yang luar biasa, tak mempergunakan kekuatan penuhnya mampu membuat dirinya sendiri terjatuh, ditindihi orang tua itu. Dan dengan kerendahan hatinya, Junaid pun memproklamirkan akan kekalahannya. Sehingga ia memberikan hak kepada orang tua itu sebagai pemenang dan meraih hadiahnya.

Kemudian tiba-tiba saja di malam harinya, Junaid al-Baghdadi bermimpi bertemu Nabi Muhammad ﷺ yang mengatakan: "Duhai Junaid, engkau telah mengorbankan kehormatanmu, ketenaranmu yang telah diakui di seantero negeri. Nama dan posisi yang digembar-gemborkan di seluruh penjuru Baghdad bertukar demi ekspresi cintamu untuk anak-anakku yang kelaparan. Pada hari ini dan abadi untuk seterusnya, namamu akan tercatat dalam daftar Auliya' (wali Allah)."

Setelah itu, pegulat besar ini berhasil belajar untuk mengalahkan nafsunya dan menjadi salah satu Waliyullah paling terkemuka pada masanya.

(Dinukil dari kitab "Tajalliyat al-Jadzb" karya asy-Syaikh Muhammad Hakim Akhtar)


Semoga bermanfaat Allaahumma aamiin...
Wallaahu a'lam bish shawab wasalamu'alaikum wa rahmatullaahi ta'ala wa barakatuh.

SI BAHLUL & RAJA HARUN AL RASYID

Pada suatu hari lewat Harun al-Rasyid di hadapan Bahlul al-Majnun yang sedang duduk di dekat kuburan.Harun al-Rasyid berkata kepadanya: “Wahai Bahlul, kapan kamu berakal ?”

Sejurus kemudian, Bahlul beranjak dari tempatnya lalu naik ke atas pohon. Setelah itu, dia memanggil Harun al-Rasyid dengan sekuat suaranya.
“Wahai Harun yang gila, kapan engkau sadar?”

Harun al-Rasyid kemudian menghampiri pohon dengan menunggangi kudanya seraya berkata: “Siapa yang gila, aku atau engkau yg selalu duduk di kuburan ?”

“Aku berakal dan engkau yang gila,” kata si bahlul.

“Bagaimana bisa begitu ?,” kata Harun Al Rasyid.

“Karena aku tahu bahwa gedungmu akan hancur dan kuburan ini tetap kekal. Makanya, aku memakmurkan kubur sebelum gedung. Sementara engkau memakmurkan gedungmu dan menghancurkan kuburmu, sampai-sampai engkau takut dipindahkan dari gedungmu ke kuburan. Padahal, engkau tahu bahwa engkau pasti masuk kubur. Sekarang katakan, wahai Harun, siapa yang gila di antara kita ?”

Bergetarlah hati Harun. Lalu, ia pun menangis bercucuran hingga air matanya membasahi jenggot. Kemudian ia berkata, “Demi Allah engkau yang benar. Tambahkan nasihatmu untukku, wahai Bahlul.”

“Cukup bagimu al-Qur'an maka jadikanlah pedoman,” tegas Bahlul.

“Apa engkau memiliki permintaan, wahai Bahlul? Aku akan penuhi,” tanya sang khalifah.

Bahlul berkata, “Iya, aku punya tiga permintaan. Jika engkau penuhi aku akan berterima kasih padamu.”

“Mintalah,” jawab Harun al-Rasyid.

“Tambahkan umurku,” kata si Bahlul.

“Aku tak mampu,” jawab Harun al-Rasyid.

“Jagalah aku dari malaikat maut,” kata si Bahlul.

“Aku tak mampu,” jawab Harun al-Rasyid.

“Masukkan aku ke surga dan jauhkan aku dari api neraka,” kata si Bahlul.

“Aku tak mampu,” jawab Harun al-Rasyid.

“Ketahuilah, wahai khalifah. Engkau itu dimiliki (seorang hamba), bukan pemilik (Tuhan). Aku tidak butuh kepadamu.” jawab si Bahlul.

[Dinukil dari kitab Uqalâul Majânîn (Orang-orang Gila yang Berakal) karya al-Hasan bin Muhammad bin Habib al-Naisaburi]


Semoga bermanfaat Allaahumma aamiin...
Wallaahu a'lam bish shawab wasalamu'alaikum wa rahmatullaahi ta'ala wa barakatuh.